Tuesday, November 30, 2004

Pembantu..oh, pembantu...

Punya pembantu itu susah-susah gampang. Apalagi pembantu jaman sekarang banyak maunya. Kalau kita tidak pintar-pintar mengatur mereka, mereka akan ngelunjak atau malah tidak betah bekerja pada kita.

Saya baru merasa pusingnya mengurus pembantu sendiri setelah menikah, dulu di rumah ibu saya, saya tahunya beres saja. Ibu selalu punya pembantu dan sepertinya tidak pernah punya masalah dengan mereka. Pembantu Ibu saya rata-rata jujur dan setia (kerja sampai belasan tahun). Tiap mereka pulang kampung untuk lebaran, Ibu tidak pernah merasa khawatir mereka tidak akan kembali bekerja lagi setelah lebaran. Paling-paling hanya molor sedikit dari jadwal yang diminta, misalnya mereka janji akan pulang tiga hari setelah lebaran, ternyata baru balik setelah seminggu kelar lebaran. Tapi itu sih lumrah.

Dihitung-hitung, sejak saya menikah empat setengah tahun yang lalu, sudah empat pembantu yang bekerja pada saya. Satu orang keluar atas kemauannya sendiri (mendapat tawaran bekerja sebagai penjaga toko), dua orang lainnya saya berhentikan secara hormat, dan seorang lagi masih bekerja pada saya hingga saat ini dan InsyaAllah betah dan cocok bekerja pada saya. Jangan salah, saya bukannya jenis majikan yang semena-mena, ya, hingga harus gonta-ganti pembantu. Justru karena saya terlalu membebaskan mereka, dua dari mereka malah ngelunjak.

Pembantu pertama saya mulai bekerja pada saya saat saya melahirkan anak saya. Namanya Ruth (benar, lho, namanya memang keren sekali) Dia telaten dan pintar mengurus bayi. Pokoknya selain oleh Ibu saya, saya juga diajari oleh pembantu saya ini bagaimana cara merawat bayi yang benar. Pernah suatu hari, bayi saya yang baru berusia lima bulan sakit panas tinggi. Saya sudah panik, soalnya saya pernah membaca di salah satu majalah keluarga, kalau bayi panas tinggi dan tidak turun-turun, bisa-bisa virusnya menyerang otak. Si Ruth ini, dengan penuh percaya diri, langsung menelanjangi bayi saya dan mengompres sekujur tubuhnya dengan alkohol sambil dikipas-kipas. Selang berapa menit, Alhamdulillah, suhu tubuh bayi saya kembali normal. Sayangnya saat bayi saya berusia setahun, Ruth ijin untuk berhenti karena ia mendapat tawaran bekerja sebagai penjaga toko. Memang, sih, pendidikannya memungkinkan (lulusan SMEA) dan wajahnya juga tergolong manis. Saya pun tidak ingin menahan dia karena adalah haknya untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.

Pembantu saya yang kedua sudah agak berumur. Sebut saja namanya Ceuceu. Ia mempunyai dua orang anak yang sudah remaja. Waktu pertama kali saya menerima ia bekerja pada saya, saya pikir ia pasti lebih tahu soal perawatan anak batita daripada saya, bukankah anak-anaknya sudah besar-besar? Ternyata tidak juga. Ia terlalu sabar pada bayi saya yang sekarang sudah mulai bisa berjalan dan mengoceh. Saking sabarnya, malah boleh dibilang diperbudak oleh momongannya. Akibatnya, ia tidak bis menerapkan disiplin kepada anak saya. Makan anak saya tidak teratur, kalau dia sedang asik main mobil-mobilan, dia pasti tidak bisa diganggu, bahkan untuk acara makan. Dan si Ceuceu ini tidak bisa memaksa. Belum lagi acara menggosok gigi. Namanya batita, ia belum memahami apa manfaat dari menggosok gigi. Karena ia tidak suka rasa pasta gigi, maka ia selalu menolak untuk digosokkan giginya saat mandi. Jadi, belum ada satu setengah tahun usia anak saya, giginya sudah mulai geripis semua.

Satu hal lagi mengenai Ceuceu yang menjengkelkan saya, karena rumahnya tidak begitu jauh dari rumah saya, dia sering ijin pulang. Berhubung saya bekerja, akhirnya Ibu saya yang kena getahnya mengurus anak saya selama ia pulang. Pernah satu kali Ibu saya sedang tidak enak badan, Ceuceu datang sambil membawa anak saya untuk dititipkan kepada Ibu saya (rumah saya juga tidak jauh dari rumah Ibu saya). Ia ijin untuk pulang sebentar karena ada tamu dari kampung. Janjinya, sih, cuma sebentar. Tapi ternyata, tunggu punya tunggu, baru sore Ceuceu kembali. Walhasil ibu saya protes. Sebenarnya beliau, sih, tidak berkeberatan mengurusi cucu, tapi kalau sudah ada pembantu yang mengurus, buat apalagi beliau harus repot dari memandikan hingga memberi makan? Dan hal itu tidak hanya berlangsung sekali, tapi beberapa kali. Mau tidak mau, saya dan suami pun terpaksa mem PHK Ceuceu.

Weleh, weleh... saya pun cari pembantu lagi. Kali ini namanya Kamsini. Kita memanggilnya Bu Kam karena ia juga sudah agak berumur. Yang ini paling parah. Selain tidak mau diatur (merasa sudah berpengalaman menjadi pembantu), suka berbohong, ia juga tidak jujur soal uang. Bila kami minta tolong ke warung untuk membeli sesuatu, uang kembalian tidak pernah kembali kepada kami kalau tidak kami minta. Belum lagi masalah beras dan gula. Saya heran sekali, selama mempunyai pembantu yang satu ini, dalam satu bulan beras atau pun gula yang kami habiskan sekeluarga bisa dua kali lipat dari sebelumnya. Kemana perginya ya?

Nah, setelah kami susah payah mem PHK Bu Kam (karena ia sempat tidak mau dipecat), akhirnya saya mendapatkan pembantu dari Ibu saya. Sebetulnya ia bekerja pada Ibu saya. Tapi karena Ibu saya kasihan melihat saya tidak punya pembantu, Ibu saya pun mentransfer salah satu pembantunya kepada saya. Walaupun pembantu saya yang sekarang ini masih muda (usianya masih belasan), Alhamdulillah, karena telah terlebih dahulu mendapat 'pendidikan' dari Ibu saya, ia tidak neko-neko dan bisa diandalkan. Lagipula saya juga sudah mendapatkan banyak pelajaran dari dua pembantu saya yang terdahulu; jadi saya sudah banyak tahu kiat-kiat mengurus pembantu.

Jadi sebenarnya bagaimana sih cara yang benar dalam mengurus pembantu? Terlalu diberi kebebasan juga salah, terlalu diatur-atur apalagi. Namun, berdasarkan pengalaman dan juga saran dari Ibu saya, di bawah ini beberapa tips yang bisa kita ikuti:

Jangan terlalu memberikan kebebasan karena takut pembantu kita tidak betah bekerja pada kita. Mereka malah bekerja seenak-enaknya mereka. Sebaiknya dari awal sudah kita jelaskan kepada mereke, apa saja tugas mereka dan bila perlu, beri mereka jadwal kapan-kapan saja mereka harus mengerjakan tugas mereka tersebut. Sebagai contoh: setelah menyiapkan sarapan setiap pagi, mereka harus membereskan rumah termasuk menyapu dan mengepel, setelah itu berbelanja ke pasar, dll.

Perlakukan mereka sebagai mitra, bukan sekedar bawahan. Pembantu juga mempunyai perasaan atau pun keinginan masing-masing. Kita harus jeli dan pintar-pintar menyiasatinya. Bila mereka sedang moody (malas-malasan atau sedih), kita harus dekati mereka, tanyakan apa yang sedang mereka pikirkan, dll. Jangan salah, kita saja sering moody, kok, kenapa mereka tidak bisa?

Jangan terlalu cerewet. Kita lelah pulang dari kantor dan mendapati keadaan rumah berantakan. Apa reaksi pertama kita? Kita pasti akan marah atau pun kesal. Tapi tahan, jangan langsung menyemprot pembantu anda. Tegur ia dengan halus, tanyakan mengapa ia tidak membereskan rumah. Beri ia kesempatan menjawab. Siapa tahu ia sudah membereskan rumah dengan rapih, tiba-tiba saja anak anda masuk, membawa sekelompok temannya dan mulai main pasar-pasaran hingga sore hari. Belum sempat ia membereskan karena harus memandikan anak anda terlebih dahulu, tahu-tahu anda sudah pulang.

Berikan pujian. Sebaliknya, bila mereka melakukan inisiatif tertentu (seperti mencuci mobil yang kotor sebelum kita menyuruhnya), kita harus memberikan pujian khusus. Berikan ia perasaan bahwa ia dihargai.

Jangan memberikan terlalu banyak pekerjaan. Semua orang mempunyai kemampuan masing-masing. Jangan mentang-mentang anda mempunyai pembantu maka anda serahkan seluruh pekerjaan rumah tangga kepadanya, dari mulai mencuci piring, mencuci baju hingga membereskan rumah (kecuali pembantu anda lebih dari satu - sebaiknya mereka mempunyai pembagian pekerjaan yang adil). Apa salahnya kita bantu-bantu sedikit. Bila kita lihat ia sudah cukup repot dengan mancuci pakaian, menyetrika, membersihkan rumah sekalian menjaga anak anda, ambil alih tugas di dapur. Saya yakin suami anda juga lebih senang merasakan masakan istri sendiri. Tidak bisa masak? Ambi alih tugas menyetrika. Siapa pun bisa menyetrika tanpa harus kursus terlebih dahulu.

Bagaimana? Ternyata tidak susah ya. Mau mencoba? Kabari saya, ya, kalau berhasil.

3 comments:

Bebeth said...

Iya Ky, emang susah2 gampang ya menghadapi pembantu. Tapi tips ibu elo emang udah tokcer dah. Nyokap gue juga gitu tuh, biasanya pembantunya pada betah. Dan nyokap gue, (krn udah makan asam garam kehidupan lebih banyak dari gue, he, he,...) juga suka punya intuisi mana pembantu yg bakal tahan lama, mana yg nggak jujur, dsb.

Ibu2 kita pada bisa begitu juga krn mungkin tdk kerja di luar rumah seperti kita. Jadi punya kesempatan dan waktu untuk memperhatikan keadaan pembantu. Lha jaman kita... waktu yg kita habiskan di luar rumah buat kerja kan jauh lebih besar dari waktu kita di rumah... pergi pagi2 bener, pulang udah malem. Kalo masih single dan tinggal sendiri mah enak, pulang rumah, mo makan dulu kek, mo mandi dulu kek, mo langsung tidur kek, nggak ada yg peduli ;) Kalo masih single dan tinggal ama ortu juga enak :) Kalo udah berkeluarga pan beda :)

Thanks for your sharing, Ky!

Ichsan said...

wahh sama nih.. gw jg baru mau nulis diblog.. secara saya jg keluarga baru.. baru ngerasain punya pembantu sendiri. kalau dulu tahunya beres aja. hhh.. sekarang hidupku ini masih ngga jauh2 dari problematika seputar pembantu deh.. 1.5 tahun sudah ganti 7 kali!!! arggrgrgrg!!! pengen tak tampar rasanya pembantu tuh..

Blog said...

Gak setuju paragraf terakhir semua orang bisa nyetrika tanpa kursus, soalnya pembantuku gak bisa nyetrika, ngelipet baju gak bisa simetris, mesti mencong kanan kiri, terpaksa harus dilatih dulu berhari hari, caranya ya saa suruh dia lihatin saya setrika hahahaaa,,,,awalnya capek sih ngajarin, lama lama dia bisa juga.